Kabupaten Lampung Timur Menuju Pendidikan Inklusif

Diposting pada

Advertorial:

Lampung Timur – Pada prinsipnya pendidikan tidak mengenal golongan dan kondisi masyarakat sehingga semua golongan dalam masyarakat dapat mengenyam pendidikan selayaknya sebagaimana diamanatkan Undang – Undang Dasar 1945. Dalam keseharian kita mengenal adanya sekolah luar biasa atau SLB yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Pada perkembangannya SLB merupakan pendidikan yang secara ekslusif memberikan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus tersebut. Namun demikian pemerintah telah mencanangkan program pendidikan inklusif yang memberikan kesempatan pada anak berkebutuhan khusus untuk bersekolah di sekolah umum.

Pendidikan inklusif sendiri berdasar pada Pasal 5 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang kemudian ditindaklanjuti dengan Permendiknas No. 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa.

Secara pengertian pendidikan Inklusif merupakan pendidikan yang bersifat umum dan untuk semua. Hal ini berarti anak yang berkebutuhan khusus pun dapat mengenyam pendidikan di sekolah umum asalkan fasilitas dan pendampingan terhadap anak-anak tersebut tersedia. Sekolah inklusi merupakan sekolah yang menerapkan pendidikan inklusif didalamnya. Hal ini selain dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan mental anak berkebutuhan khusus, juga dapat membentuk kepribadian selaing menolong dan saling menghargai sesama manusia bagi anak-anak lain yang normal. Oleh karena itu penting artinya penerapan pendidikan inklusif di sekolah sebagai bagian pembelajaran bagi siswa-siswa di sekolah tersebut.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur mengadakan sosialisasi pendidikan inklusif pada hari Rabu (5/10/2016) bertempat di aula Pemda Kabupaten Lampung Timur yang menghadirkan narasumber dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dan Unsur dari Dinas Pendidikan Kota Metro yang saat ini Kota Metro merupakan salah satu daerah yang telah menerapkan pendidikan inklusif.

Dijelaskan dalam sambutan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lampung Timur Drs. Merah Juansah, MM. bahwa dasar pelaksanaan sosialisasi pendidikan inklusif ini adalah nota kesepahaman antara Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Lampung Timur dan Kementerian Pendidikan Pemuda dan kebudayaan Republik Indonesia. Tujuan pelaksanaannya adalah untuk mengenalkan pendidikan inklusif ini kepada semua stakeholder antara lain semua kepala dinas, badan, kantor dilingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, unsur DPRD, dan para kepala UPTD Dinas Pendidikan di 24 kecamatan se-Kabupaten Lampung Timur. Dijelaskan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tidak dibatasi oleh keterbatasan fisik, emosional, mental, sosial, atau yang memiliki potensi kecerdasan serta bakat istimewa.

Dalam pengarahannya Bupati Lampung Timur yang diwakili Ataf Ahli Bupati Almaturidi menyatakan bahwa Lampung Timur saat ini sedang menuju kabupaten yang ramah anak dan ramah HAM, hal ini berarti semua warga masyarakat akan dapat terlayani dengan baik, layak, dan dihargai hak-haknya termasuk anak atau orang yang berkebutuhan khusus. Beliau berharap dengan sosialisasi ini dapat meningkatkan pemahaman kita semua terhadap pendidikan yang seutuhnya dan mampu menyejahterakan bagi siapapun termasuk bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Dalam paparannya narasumber  baik dari Dinas Pendidikan Kota Metro dan dari UPI Bandung memaparkan kelebihan-kelebihan dari penerapan pendidikan inklusif dan sangat menyambut baik rencana Kabupaten Lampung Timur untuk menerapkan pendidikan inklusif tersebut di waktu yang akan datang. Kota Metro sudah sekitar 2 tahun ini telah menerapkan pendidikan inklusif dan banyak kemajuan yang didapatkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus tersebut dan pendidikan moral serta mental bagi anak-anak yang lain. Memang penerapan pendidikan inklusif membutuhkan penyediaan sarana dan prasarana khusus, seperti misalnya jalan khusus pengguna kursi roda, guru pendamping yang dilatih khusus untuk menangani siswa khusus, buku berhuruf braile untuk tuna netra, dan lain-lain, namun hal ini merupakan kewajiban semua untuk meningkatkan pendidikan yang baik dan inklusif untuk semua.(*)